Cerita Pendakian
Gambar diatas cukup indah kan ? Tapi siapa sangka, siang hari - di hari yang sama -, semuanya berubah. Kabut dingin dan hujan lebat memaksa kami tetap berjalan ke puncak ( jangan berhenti atau mati kedinginan ? ).
ALERT! tulisannya puanjanggg..
Kamis, 20 Maret 2008
Persiapan sudah oke. Packing sudah selesai. Tinggal nunggu si kepiting yang rencananya tiba jam 4 - tapi malah molor sampai jam 5 -, dari Jakarta -. Hari ini kami akan berangkat ke pos 2 jalur Wekas, Gunung Merbabu. Menyusul sandal + ajengnya, dan mas pandit yang sudah lebih dulu berangkat pada rabu sore.
Kami diantar menuju titik awal jalur pendakian, oleh mas Yusuf dan teman-teman dari Rumahweb. Tapi sayangnya, jalur itu jalur Kopeng yang menuju ke dukuh Cuntel, bukan jalur Wekas. Jalur ini katanya lebih dekat dan lebih nyaman untuk didaki, ketimbang lewat jalur Wekas.
Sekitar jam 8 malam, kami memulai perjalanan ke dukuh Cuntel. Perjalanan memakan waktu 2 jam. 20 menit pertama dilalui dengan rasa ragu, karena di sepanjang jalan hanya ada hotel dan diskotik
. Saya sendiri sempat terniat untuk menginap, lalu melanjutkan perjalanan besok pagi ke Wekas. Tapi entah kenapa niat tersebut saya urungkan. Sisa menit berikutnya hanya ada hutan pinus dan kebun kol / kubis milik penduduk.
Sekitar jam 10 malam, kami tiba di basecamp Cuntel. Basecamp ini berbeda dengan basecamp di jalur pendakian yang lain. Di jalur Wekas, basecamp yang digunakan adalah rumah penduduk - yang menurut saya, jauh lebih nyaman
-, sedangkan di Cuntel, basecamp yang digunakan adalah sebuah bangunan yang memang khusus dibuat untuk tempat beristirahat para pendaki. Mirip sebuah rumah dengan ruang kosong yang besar, 2 kamar mandi, 1 dapur, dan 1 gudang. Basecamp di Cuntel, tidak dijaga 24 jam. Namun ada nomor telepon yang bisa dihubungi jika ada pendaki yang berniat untuk beristirahat di basecamp tersebut.
Malam ini kami tidak berniat untuk langsung melakukan pendakian. Setelah ngobrol lama dengan para penjaga basecamp (saya lupa namanya. hiks), kami pun tertidur di kantung tidur masing-masing.
Jum’at 21 Maret 2008
Saya terbangun jam 5 subuh. Hari sudah mulai terang. Kepiting masih terlelap di kantung tidurnya. Pagi itu saya baru tersadar kalau basecamp berada persis disamping tempat pemakaman.
Ada tiga puncak yang cukup terkenal di gunung Merbabu : Puncak pemancar (begitu sebutannya), Puncak Sarip, dan Kenteng Songo (3142 MDPL / Meter Diatas Permukaan Laut, puncak tertinggi di Merbabu).
Hari ini kami memutuskan untuk naik ke puncak terdekat dengan dukuh Cuntel ( puncak pemancar ), lalu turun ke pos 2 Wekas. Rencana yang pada akhirnya tidak terjadi di hari yang sama
.
Jam 6 pagi kami berangkat, masuk ke perkampungan penduduk untuk mencari warung makan! Haha. Semangkuk mie rebus dan teh anget cukup melegakan di udara yang dingin.
Penduduk di dukuh Cuntel sangat ramah. Terlalu ramah malah. Selalu tercipta suasana hangat di udara yang begitu dingin ketika kami menyapa para penduduk. Mereka bahkan tidak sungkan menawarkan mampir ke rumah yang kadang membuat kami sungkan untuk menolak.
Jam 7, kami mencari gereja. Hari Paskah, dan kepiting berniat untuk melakukan ibadahnya. Saya menunggu diluar gereja sambil bertukar cerita dengan penduduk yang kebetulan lewat.
Jam 9 kurang, penderitaan pendakian pun dimulai. Berbekal peta perjalanan dari basecamp, kami mulai menelusuri jalan menujuk puncak gemilang cahaya *loh jadi lagunya AFI?. Pos tujuan pertama adalah pos bayangan 1. sekitar 40 menit - 1 jam perjalanan.
Begini kira-kira waktu tempuh yang tertulis di peta. Untuk ukuran kami, waktu tempuh tersebut harus dikali 2
:
- Cuntel - Pos Bayangan 1 : 20 menit
- Pos Bayangan 1 - Pos Bayangan 2 : 30 menit
- Pos Bayangan 2 - Pos 1 : 1 jam
- Pos 1 - Pos 2 : 30 menit
- Pos 2 - Pos 3 : 30 menit
- Pos 3 - pos 4 : 1 jam ( 1,3 km ).
Persediaan air tersedia di perjalanan menuju pos bayangan 2. Airnya dingin (pernah megang es batu? kira-kira segitu dinginnya ) dan menyegarkan.
Di pos 1, ada banyak kera/ monyet hutan yang berkeliaran. Tapi tenang saja, mereka tidak mengganggu selama tidak diusik. Dari pos 1 ini, ada 3 orang teman baru. Mereka berangkat jam 10 pagi dari Cuntel (kebayang kan betapa pelannya kami berjalan
). Pos 2, berupa tanah yang cukup luas, cukup untuk mendirikan beberapa tenda doom. Pos 3, luas sekali *halah*. Hampir seluas lapangan sepakbola, dan semuanya tertutup oleh rumput (pertanda bahwa hampir tidak ada pendaki yang nge-camp di lokasi tersebut ?).
Pendakian kami dari pos 2 ke pos 3 disertai dengan hujan gerimis, tanpa kabut. Di pos 3 ini juga nokia 6600 saya tewas kehabisan batere sebenarnya sudah sekarat sejak pos 2 :D, yang artinya kami kehilangan salah satu alat komunikasi dengan sandal yang ada di pos 2 Wekas. 3 Orang yang kami temui sejak pos 1 ternyata berhenti di pos 3 dan memutuskan untuk turun. “sudah biasa ke puncak mas. Dari sini ke puncak pemancar kira2 satu setengah jam kalau jalannya cepet”, begitu jawaban mereka ketika kami tanya.
Penderitaan benar-benar dimulai dari pos 3 ke puncak pemancar. Hujan semakin lebat, dan kabut dingin bertiup kencang (ini badai bukan ya ? ). Hampir tidak ada pohon atau batu besar yang bisa dijadikan tempat berlindung. Yang kami andalkan waktu itu hanya raincoat / jas hujan ( dijadikan tempat perlindungan sementara. bahasa kerennya : bivoac. dulu waktu masih ikut pramuka, saya diajari membuat bivoac dari pohon, bukan jas hujan. *alesan* ) .
Entah berapa jam kami berjalan. Muka, telapak tangan, kepala, semua sudah terasa beku. Untuk melangkah pun terasa sulit. Kami hanya mengandalkan semangat untuk tidak kehilangan kesadaran sampai ke puncak pemancar. Better walk then die in the cold. Kami yakin, di puncak itu ada ruang untuk berteduh sementara, sambil menghangatkan badan.
Tapi kenyataannya berbeda. Pemancar dan ruangan yang ada dikunci rapat. Kami mulai putus asa. Saya benar-benar sudah tidak kuat. Bahkan untuk mengucapkan sepatah kata saja sudah sulit. I was dying.
Untung saja si kepiting masih sanggup buat ngomong. Kata-kata ‘ayo, jalan lagi peng’ atau ‘mending kita jalan dikit lagi, kalau ketemu orang bisa numpang atau pinjem kompor nya’. Memang benar, kami bertemu pendaki lain yang akan turun gunung tepat beberapa meter setelah melewati pemancar ( dipuncak pemancar memang ada pemancarnya, katanya sih pemancar tv. Ada juga yang bilang kalau itu milik pemerintah / TNI ). Kami sungkan untuk meminjam kompor karena mereka sudah selesai berkemas dan siap untuk turun. Tapi ada informasi berharga yang kami dapat, ‘dibawah ada yang baru nge-camp. coba aja turun dikit lagi mas’. Dikit lagi ?
‘Di bawah’ yang dimaksud adalah pos 3 Wekas (atau dekat dengan pos 3 ? ). Kami butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk turun ke pos 3. Disitu kami bertemu dengan mas Agus dan mas Budi. Mereka yang menawarkan untuk berteduh di tenda yang mereka gunakan.
Mas Agus adalah seorang dosen / pengajar dari Cepu. Beliau mendaki gunung Merbabu karena kegagalan rencana pendakian gunung Arjuna, Jawa Timur. Gunung Arjuna kabarnya ditutup karena hujan yang turun hampir setiap hari. Sedangkan mas Budi, awalnya saya menyangka beliau memang tinggal di gunung. Beliau pernah menghabiskan waktu seminggu di gunung, sendirian. Kedua orang ini benar-benar pendaki tingkat mahir
. Semua perlengkapan tersedia, bahkan persediaan logistik mereka super lengkap. ’saya kalau sebulan aja ngga naik gunung, bisa uring-uringan di rumah, mas’ begitu kata2 mas Budi yang saya tangkap. Atau ‘Tujuan utama saya naik gunung, ya makan-makannya ini. Puncak itu tujuan kedua. pelengkap’ kata mas Budi. Tujuan kedua ? pelengkap ? Miris rasanya kalau mengingat kembali kejadian tadi siang.
Mas Agus dan Mas Budi ternyata sudah bertemu dengan sandal cs di pos 2 jalur Wekas. Entah apa yang dibicarakan, sampai kami dianggap orang hilang yang tersesat tanpa bekal memadai. Tapi untungnya kedua orang ini menyambut dengan hangat. Merebus mi, menyuguhkan roti (+ keju + susu) dan secangkir susu jahe, hingga menawarkan tidur di tenda yang sama (tenda yang harusnya hanya muat untuk 2 orang).
Saya tertidur pulas sejak jam setengah delapan malam. Hujan masih mengguyur merbabu.
Sabtu, 22 Maret 2008
Jam 3 pagi. Kami berempat bangun untuk bersiap-siap melakukan pendakian ke Kenteng Songo. Kami sampai di puncak, persis sebelum sunrise. 15 menit kemudian, saya, kepiting dan mas Budi, turun. Sedangkan mas Agus masih melakukan kegiatan jeprat jepret di puncak.
Sekitar jam 8 ( atau jam 9 ya itu ?), kami bertemu dengan sandal + ajengnya. Sst, kabarnya sih ajeng nangis waktu melihat saya dan kepiting, mungkin sehari sebelumnya benar-benar dianggap hilang ya.
Tidak ada yang istimewa setelah itu ngga sampai pelukan pas ketemu sandal + ajengnya . mas Budi masak mi dan air panas untuk bekal perut-perut kosong kami. Kemudian saya dan kepiting berkemas lalu pamit turun ke pos 2. Mas Budi tidak ikut turun ’saya masih pengen nge-camp di puncak’ *glek*, sedangkan mas Agus turun ke pos 2 setelah kami ( nyusul ).
Setelah makan (lagi?) di pos 2, kami berkemas dan turun ke basecamp. Saya dan kepiting turun paling pelan. Entah kenapa, paha, lutut dan betis mulai terasa nyeri setiap melangkah. Ditambah lagi dengan jalur yang semakin licin akibat hujan deras yang begitu setia menemani kami hingga ke basecamp Wekas.
Di basecamp Wekas, kami beristirahat sebentar. Mandi, packing ulang, lalu makan (hah?
). Lalu pulang ke jogja, dengan selamat.
EOS >>> End Of Story.
Ada beberapa catatan penting yang tertinggal, paling tidak di kepala saya :
- Manusia benar-benar punya kemampuan lebih untuk bertahan dalam kondisi darurat.
- We’re human. Hanya bisa merencanakan. Kuasanya tetap ada pada Tuhan. Jadi sebaiknya persiapkan rencana sematang mungkin, bahkan untuk kemungkinan terburuk sekalipun.
- Ketika rencana gagal berantakan, jangan menyerah. Tuhan pasti punya jalan keluar yang lain. Kita tidak akan pernah tahu jalan keluar yang akan diberikan, ketika kita sudah menyerah. Siapa tahu jalan tersebut hanya tinggal satu langkah di depan.
andai semangat ini bisa saya salurkan ke skripsi

March 23rd, 2008 at 3:15 pm
alert-nya memang betul
March 23rd, 2008 at 3:16 pm
asik tuh… cuman gue nggak suka mendaki, atut
March 23rd, 2008 at 4:09 pm
Kok yang dipajang malah potonya kepiting? Memang bikin bangga! *lho?*
March 23rd, 2008 at 5:16 pm
menarik pengalamannya…Kapan Ke Lawu ? Ikut
March 23rd, 2008 at 11:25 pm
@mas iman
kayaknya harus nunggu long weekend lagi mas.
maklum, ada kewajiban mburuh.
@sandal
hehe. di hp ku malah ngga ada foto sendiri. T_T .
March 24th, 2008 at 12:46 am
Ke lawunya sekitar bulan agustus aja yuk, bulan itu di sana lagi musim stroberi
March 24th, 2008 at 1:17 am
@sandal
agustus ? ada long weekend lagi-kah ? boleh juga tuh jeng.
March 24th, 2008 at 1:46 am
di kelonin kepiting sama sendal gk jeng?
March 24th, 2008 at 2:53 am
@detnot
ngga jeng.untungnya ngga sampai kepikiran buat kelon2an, walaupun kedinginan. hehe..
March 24th, 2008 at 6:06 pm
kapan ya bisa naek lagi…
ah dah tua sekarang!
:d
March 25th, 2008 at 3:11 am
ceritanya panjang
March 25th, 2008 at 7:35 am
@ pengki
ai lop yu mai pren
ai mis yu mai pren
hiks…kita bdua hampir ‘mampus’ karna terlalu PEDE nanjak kagak bw logistik yg cukup and tenda serta pernak perniknya…
feeling gw benerkan bro…mending kita nginep di diskotik yg dibawah…atau gw daki gunung yang di hotel garuda…wkakakakaka….
…hhmmm….lepas dari semua itu…perjalanan kita indah ‘peng..terlalu sayang untuk dilupakan dan terlalu nekat untuk mendaki kembali liwat jalur ‘gila’ itu…hihihihi…
…gimana kalau bsk2 kita lwt jalur kopeng lg peng, tp kita gak naek ke pemancar mlainkan kita nginep dirumah bapak jemaat greja yang anak gadisnya cantik itu peng…setujukah dirimuw?? :p
March 25th, 2008 at 10:57 am
Sebuah ketololan di musim hujan.
March 26th, 2008 at 12:47 pm
*moral cerita
mending klo mau ikut naik gunung.. ikut kloternya sandal .. lebih aman
*syukurlah kalian bisa kembali dengan selamat
kok kayanya serem banget tho
March 27th, 2008 at 6:45 pm
wah… ceritanya seru, jadi pengen naik gunung
March 29th, 2008 at 11:28 am
oh pantesan pada ndak keliatan di candi boko, pada ngumpet di gunung lawu ternyata
eh, pas sana bisa liat kami yg di Boko ndak, padahal kami bisa liat gunung lawu lho…
April 5th, 2008 at 5:10 am
Geblek…ni posting atau cerita novel? sampe cape aku bacanya
April 5th, 2008 at 5:13 am
Disaat dikau kedinginan sampe beku, aku tidur manis di hotel dan mandi air anget dengan shower. Paginya, disaat dikau kelaparan, aku makan-makan sepuasnya dengan gratis.
Disaat kamu dah enak(mungkin dah ketemu yang dituju) daku tersiksa dengan mengerjakan bejibun ticket yang sampe 55
April 26th, 2008 at 12:45 am
Wah… Ceritanya Seru ya…

Jadi Pengen ke Merbabu nih…